<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>SirtuBerbagi</title>
	<atom:link href="http://sirtuberbagi.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sirtuberbagi.wordpress.com</link>
	<description>Aku Hanya Ingin berbagi Pada Kalian Semua</description>
	<lastBuildDate>Mon, 10 Aug 2009 16:55:32 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='sirtuberbagi.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/929d29748c80804fe4d8d94f5e494dbb?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>SirtuBerbagi</title>
		<link>http://sirtuberbagi.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://sirtuberbagi.wordpress.com/osd.xml" title="SirtuBerbagi" />
	<atom:link rel='hub' href='http://sirtuberbagi.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Menulis Ibarat Mencatat Pelajaran Dari Tuhan</title>
		<link>http://sirtuberbagi.wordpress.com/2009/08/07/menulis-ibarat-mencatat-pelajaran-dari-tuhan/</link>
		<comments>http://sirtuberbagi.wordpress.com/2009/08/07/menulis-ibarat-mencatat-pelajaran-dari-tuhan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Aug 2009 15:26:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sirtuberbagi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sirtuberbagi.wordpress.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Dalam hidup ini begitu banyak peristiwa dan kejadian yang pernah kita alami. Setiap peristiwa sehari-hari memiliki hikmah dan pelajaran bagi hidup kita, apalagi jika kita menuliskannya pelajaran yang terkandung di dalamnya akan semakin terpahami. Tulian itu membantu saya untuk memahami &#8230; <a href="http://sirtuberbagi.wordpress.com/2009/08/07/menulis-ibarat-mencatat-pelajaran-dari-tuhan/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sirtuberbagi.wordpress.com&amp;blog=8880383&amp;post=24&amp;subd=sirtuberbagi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sirtuberbagi.files.wordpress.com/2009/08/sir4.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-26" title="sir4" src="http://sirtuberbagi.files.wordpress.com/2009/08/sir4.jpg?w=500" alt="sir4"   /></a>Dalam hidup ini begitu banyak peristiwa dan kejadian yang pernah kita alami. Setiap peristiwa sehari-hari memiliki hikmah dan pelajaran bagi hidup kita, apalagi jika kita menuliskannya pelajaran yang terkandung di dalamnya akan semakin terpahami. Tulian itu membantu saya untuk memahami sesuatu lebih detail, karena saat menuliskannya saya diharuskan untuk merenung dan menyusun kata-kata kedalam tulisan. Ibarat mencatat pelajaran dari guru di dalam kelas, mencatat pengalaman sehari-hari adalah mencatat pelajaran dari Tuhan.<br />
<span id="more-24"></span><br />
Pengalaman memang guru yang paling baik, tapi jika tidak dicatat ia akan mudah hilang ditelan sang raksasa “waktu”. Semua pelajaran itu terkadang hanya numpang lewat saja dan menghilang seiring berjalannya waktu jika tidak dicatat ke dalam tulisan. Mungkin ada orang yang memiliki daya ingat yang kuat, tapi perlu diingat juga manusia akan mengalami masa penuaan dan berkurangnya fungsi semua organ tubuh. Termasuk daya ingat otak akan melemah.</p>
<p>Kita mengambil pelajaran dari sejarah pembukuan al-Qur’an di masa khalifah Usman. Meski saat itu bangsa Arab dikenal dengan kekuatan hapalannya, namun tetap saja manusia tidak akan kekal abadi. Para sahabat yang menghapal al-Qur’an banyak yang meninggal di medan perang  dan jumlah penghapal al-qur’an semakin berkurang. Oleh karena itu al-qur’an yang tercecer dikumpulkan dan ditulis dalam satu mushap, hingga menjadi kitab al-qur’an seperti yang kita kenal sekarang. Bisa dibayangkan jika saat itu tidak ada pencatatan terhadap ayat-ayat al-qur’an  mungkin kita tidak bisa membaca al-quran seperti saat ini. Demikian juga dengan ilmu pengetahuan jika tidak dituliskan, maka generasi selanjutnya sulit bisa mengetahuinya.</p>
<p>Jadi menulislah, karena begitu besar mamfaat yang akan diperoleh. Tidak ada ruginya untuk menuliskan semua peristiwa dalam hidupmu. Menulis itu gampang kok, Memulai tulisan tidak mesti bawa lap top ke mana-mana. Memulai tulisan yang paling gampang bisa dengan menulis buku harian. Gampang dan tidak perlu biaya banyak. Menulis di buku harian akan melatih kita menjadi penulis hebat. Percaya deh, silahkan dicoba.</p>
<p><strong>Mulai Menulis</strong></p>
<p>Satu hal yang sering menjadi kendala kita dalam menulis yaitu kesulitan untuk memulai tulisan. Dari mana saya harus mulai menulis dan bagaimana memulainya ?. hal ini pernah saya alami sebagai penulis pemula dan mungkin hampir sema orang pernah mengalaminya. Dalam posisi seperti itu yang perlu kita lakukan adalah memulai tulisan dengan bebas. Seperti yang dibilang oleh Hernowo kita harus bebaskan pikiran kita dari aturan yang baku. Dengan demikian kita akan lebih bebas mengeluarkan ide-ide yang ada dalam benak kita. Masalah penulisan yang baik dan enak bisa diatur dalam tahap editing, setelah ide-ide itu keluar dan dituangkan ke dalam tulisan.</p>
<p>Memulai tulisan pun tak mesti dengan kata-kata yang bagus dan indah. Untuk tahap awal yang terpenting adalah mengeluarkan ide yang ada di dalam benak kita. Itu saja.</p>
<p>Menulis membutuhkan rutinitas, jika kita mampu menulis tiap hari maka dengan sendirinya tulisan yang kita hasilkan akan bagus. Seperti sebuah ungkapan “orng bisa karena biasa” jadi tak perlu khawatir untuk mulai menuli.</p>
<p>Ibarat orang yang belajar renang, sehebat apa pun ia belajar teori renang tapi tidak pernah berani untuk terjun ke dalam air maka mustahil ia akan bisa renang. Demikian juga hal yang dengan menulis. Sehebat apapun teori menulis yang kita pelajari tapi tidak pernah berani mencoba menulis. Sampai kapan pun kita tidak akan bisa menjadi penulis yang bagus. []</p>
<p style="text-align:right;">Sirtu</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sirtuberbagi.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sirtuberbagi.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sirtuberbagi.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sirtuberbagi.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sirtuberbagi.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sirtuberbagi.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sirtuberbagi.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sirtuberbagi.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sirtuberbagi.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sirtuberbagi.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sirtuberbagi.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sirtuberbagi.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sirtuberbagi.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sirtuberbagi.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sirtuberbagi.wordpress.com&amp;blog=8880383&amp;post=24&amp;subd=sirtuberbagi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sirtuberbagi.wordpress.com/2009/08/07/menulis-ibarat-mencatat-pelajaran-dari-tuhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3157c155d98e7ce9f83af94ffa3ccfff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sirtuberbagi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sirtuberbagi.files.wordpress.com/2009/08/sir4.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">sir4</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Si Buntung</title>
		<link>http://sirtuberbagi.wordpress.com/2009/08/05/si-buntung/</link>
		<comments>http://sirtuberbagi.wordpress.com/2009/08/05/si-buntung/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Aug 2009 20:05:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sirtuberbagi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sirtuberbagi.wordpress.com/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[JANGAN bicara kepada saya tentang jihad. Hari ini saya sudah tak tahu lagi apa maksudnya. Tuan bisa berkata, jihad bukanlah kekerasan. Tapi berbareng dengan itu orang lain berkata jihad itulah yang membenarkan bila orang yang dianggap kafir atau murtad dibunuh. &#8230; <a href="http://sirtuberbagi.wordpress.com/2009/08/05/si-buntung/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sirtuberbagi.wordpress.com&amp;blog=8880383&amp;post=20&amp;subd=sirtuberbagi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sirtuberbagi.files.wordpress.com/2009/08/meriot.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-21" title="merriot" src="http://sirtuberbagi.files.wordpress.com/2009/08/meriot.jpg?w=500" alt="merriot"   /></a>JANGAN bicara kepada saya tentang jihad. Hari ini saya sudah tak tahu lagi apa maksudnya.</p>
<p>Tuan bisa berkata, jihad bukanlah kekerasan. Tapi berbareng dengan itu orang lain berkata jihad itulah yang membenarkan bila orang yang dianggap kafir atau murtad dibunuh. Tiap tafsir bisa dibantah tafsir lain. Kepada siapa saya bisa minta kata akhir tentang apa sebenarnya yang diperintahkan agama?<br />
<span id="more-20"></span><br />
Maka jangan bicara kepada saya tentang jihad. Terorisme tak perlu dan tak bisa diterangkan dengan sabda atau fatwa. Bom yang diledakkan untuk membunuh dan bunuh diri itu justru mungkin akan lebih jelas bila dilihat sebagai sesuatu yang tak dapat diutarakan oleh (dan dalam) sabda dan fatwa.</p>
<p>Siapa yang melihat hubungan antara terorisme dan ajaran, apalagi ideologi, melupakan bahwa ada sesuatu yang lebih dahulu, dan lebih bisu, ketimbang ajaran dan ideologi—yaitu luka.</p>
<p>Yang menyedihkan dalam sejarah ialah bahwa luka itu tampaknya tak terelakkan. Akan ada selalu orang-orang buntung. Kata ini tak menunjukkan luka potong yang harfiah; di sini, ”buntung” adalah lawan kata ”beruntung”. Seorang teman di Bonn tadi pagi mengirim sebuah tulisan Hans Magnus Enzensberger dan di sana saya menemukan apa yang saya maksud. Dalam bahasa Jerman Enzensberger menyebut si buntung ”Verlierer”; dalam bahasa Inggris ”loser”.</p>
<p>Si buntung—dan ia tak hanya seorang—lahir dari semacam kecelakaan yang niscaya ketika manusia mengorganisasi dirinya sendiri. Enzensberger menyebut ”kapitalisme”, ”persaingan”, ”imperium”, dan ”globalisasi”, tapi kita bisa menambahkan bahwa terbentuknya negara-bangsa atau lembaga agama—bahkan dalam sejarah kota dan banjar—juga menyebabkan ada orang-orang yang terbuncang, tertinggal, kalah, bahkan separuh atau seluruhnya hancur. Mereka yang luka. Si buntung.</p>
<p>Sejarah juga mencatat, si buntung bisa memilih untuk menerima nasib. Si korban bisa menuntut pampasan. Si kalah bisa menunggu kesempatan lain. Tapi ada yang oleh Enzensberger disebut sebagai ”si buntung radikal”: ia yang mengisolasi diri, menjadikan dirinya tak kelihatan, merawat khayal atau phantasma-nya, menyimpan tenaga, dan menanti sampai saatnya datang.</p>
<p>Tapi saat itu bukanlah saat untuk menebus nasibnya yang parah. Si buntung radikal, menurut Enzensberger, mengatakan kepada dirinya sendiri: ”Aku buntung, dan tak bisa lain selain buntung.” Ia tak melihat hidupnya berharga, dan tak memandang hidup orang lain berharga pula. Maka ketika saat itu tiba dan ia menggebrak, si buntung siap membinasakan orang lain sekaligus dirinya sendiri.</p>
<p>Tapi agak berbeda dari Enzensberger, saya tak menganggap bahwa seluruh momen penghancuran itu sebuah pernyataan keberanian yang putus asa. Yang meledak juga bukan hasrat terpendam untuk mengekalkan ke-buntung-an. Bukankah pada saat itu, seperti dikatakan Enzensberger sendiri, akhirnya si buntung radikal bisa melihat dirinya jadi ”tuan dari hidup dan kematian”? Ia jadi seorang militan. Ia jadi subyek. Sejenak ia membebaskan diri dari statusnya yang celaka: untuk memakai kata-kata dalam sebuah sajak Chairil Anwar, ”sekali berarti, sudah itu mati.”</p>
<p>”Ber-arti”, atau mendapatkan harga dan makna, itulah yang diberikan oleh ajaran atau ideologi. Tentu saja karena ada kecocokan antara si buntung radikal dan ajaran atau ideologi itu: petuah dan petunjuk itu, tentang jihad atau perang, lahir dari tafsir yang diutarakan dari sebuah situasi luka.</p>
<p>Enzensberger memaparkan luka itu—dalam sejarah Islam—sebagaimana yang umumnya sudah diketahui. Jika ”Islam” adalah nama bagi sebuah peradaban, yang terjadi adalah sebuah riwayat panjang tentang arus yang surut. Enzensberger mengutip sajak penyair muslim kelahiran India, Hussain Hali (1837-1914), yang menggambarkan bagaimana peradaban yang pernah jaya pada abad ke-8 itu akhirnya ”tak memperoleh penghormatan dalam ilmu/tak menonjol dalam kriya dan industri”.</p>
<p>Yang kemudian berlangsung adalah Islam yang hanya memungut, cuma meminjam, dan tak bisa lagi memperbaharui. Terutama di dunia Arab, yang pada satu sisi bangga telah jadi sumber dari sebuah agama yang menakjubkan tapi di sisi lain terus-menerus menemukan kekalahan. Enzensberger menulis: ”Bagi setiap orang Arab yang peduli untuk merenungkannya, tiap benda yang kini hampir mutlak dipakai di kehidupan sehari-hari … mewakili sebuah penghinaan yang tak diucapkan—tiap kulkas, tiap pesawat telepon, tiap colokan listrik, tiap obeng, apalagi produk teknologi tinggi”.</p>
<p>Bahkan terorisme—dari gagasan, gaya, serta peralatannya—datang pada abad ke-20 dari ”Barat” yang mereka haramkan. Lingkaran setan tak dapat dielakkan lagi. Yang terpuruk jadi merasa tambah terpuruk justru ketika ingin membebaskan diri. Dalam lingkaran itu kebencian pun berkecamuk—gabungan antara kepada ”mereka” dan juga kepada diri sendiri. Tak mengherankan, di wilayah ini, si buntung radikal berkelimun.</p>
<p>Akankah ada pembebasan? Mungkinkah pembebasan? Saya percaya, jadi buntung bukanlah hukuman yang kekal. Tapi untuk itu agaknya diperlukan sebuah lupa. Si buntung perlu tak mengacuhkan lagi luka sejarah. Ia perlu melihat kekalahannya sebagai bagian dari pengalaman dan memandang pengalaman itu sebagai, seperti kata petuah lama, guru yang baik.</p>
<p>Tapi saya sadar, si buntung radikal akan sulit untuk bersikap demikian. Terutama ketika ia menerima ajaran bahwa lukanya adalah luka di luar sejarah. Maka bom diledakkan, surga yang kekal dijanjikan, jihad ke kematian jadi langkah awal dan akhir. Dan selebihnya beku.</p>
<p align="right"><strong><em>Goenawan Mohamad</em></strong></p>
<p>Sumber : <a href="http://www.tempointeraktif.com/">www.tempointeraktif.com</a> / Senin, 03 Agustus 2009</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sirtuberbagi.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sirtuberbagi.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sirtuberbagi.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sirtuberbagi.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sirtuberbagi.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sirtuberbagi.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sirtuberbagi.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sirtuberbagi.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sirtuberbagi.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sirtuberbagi.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sirtuberbagi.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sirtuberbagi.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sirtuberbagi.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sirtuberbagi.wordpress.com/20/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sirtuberbagi.wordpress.com&amp;blog=8880383&amp;post=20&amp;subd=sirtuberbagi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sirtuberbagi.wordpress.com/2009/08/05/si-buntung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3157c155d98e7ce9f83af94ffa3ccfff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sirtuberbagi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sirtuberbagi.files.wordpress.com/2009/08/meriot.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">merriot</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mati Yang Aku Dambakan</title>
		<link>http://sirtuberbagi.wordpress.com/2009/08/05/mati-yang-aku-dambakan/</link>
		<comments>http://sirtuberbagi.wordpress.com/2009/08/05/mati-yang-aku-dambakan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Aug 2009 17:58:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sirtuberbagi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sirtuberbagi.wordpress.com/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[Akhir-akhir ini kita digemparkan dengan kematian dua orang seniman musik. Yaitu sang raja pop asal Amerika Serikat Michael Jackson dan Penyanyi Regge Indonesia Mbah Surip yang meninggal ditengah puncak popularitasnya. Michael Jackson yang berhasil membawa albumnya, Thriller terjual hingga 104 &#8230; <a href="http://sirtuberbagi.wordpress.com/2009/08/05/mati-yang-aku-dambakan/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sirtuberbagi.wordpress.com&amp;blog=8880383&amp;post=17&amp;subd=sirtuberbagi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sirtuberbagi.files.wordpress.com/2009/08/urip7.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-18" title="urip7" src="http://sirtuberbagi.files.wordpress.com/2009/08/urip7.jpg?w=500" alt="urip7"   /></a>Akhir-akhir ini kita digemparkan dengan kematian dua orang seniman musik. Yaitu sang raja pop asal Amerika Serikat Michael Jackson dan Penyanyi Regge Indonesia Mbah Surip yang meninggal ditengah puncak popularitasnya. Michael Jackson yang berhasil membawa albumnya, Thriller terjual hingga 104 juta copy, dan sejumlah penghargaan diterimanya. Kini Jacko &#8216;menjauh&#8217; dari publikasi dan karirnya semakin terpuruk. Namun demikian ia tetap melegenda di dunia pop.<br />
<span id="more-17"></span><br />
Dilahirkan di Mojokerto, 5 Mei 1949 dengan nama asli Urip Achmad Rijanto Soekotjo adalah duda dengan empat orang anak sekaligus kakek dari empat cucu.Pada hari Selasa, 4 Agustus 2009, Mbah Surip meninggal. Menurut kabar yang beredar, Mbah Surip yang kerap mengatakan &#8216;I Love You Full&#8217; ini menghembuskan nafas terakhir sekitar pukul 10.30 wib, setelah sebelumnya sempat dilarikan ke RS Pusdikkes, Jakarta Timur.</p>
<p>Mbah Surip meninggal dengan status duda yang telah disandangnya selama 26 tahun dan meninggalkan empat anak dan empat cucu. Jenazahnya akhirnya dimakamkan di di kawasan Bengkel Teater W.S Rendra , Depok, Jawa Barat untuk beristirahat selama-lamanya.</p>
<p>Di tengah popularitas yang baru saja diraihnya, seniman nyentrik asal Mojokerto, Jawa Timur, tersebut menghadap Sang Khalik. Kepergian pelantun tembang Tak Gendong yang begitu mendadak itu menyisakan duka yang sangat mendalam bagi kerabat, teman dekat maupun para penggemarnya.</p>
<p>Kini, tiada lagi penampilan unik dengan rambut rasta ala penyanyi reggae dan tawanya yang khas dan lepas, yang menjadi ciri dari Mbah Surip</p>
<p>Kematian mereka begitu mengejutkan. Semua orang berduka dan merasa kehilangan sosok mereka. Semua orang merindukan kehadiran mereka. Bukan hanya sanak keluarga, tapi seluruh tanah air dan dunia merasa kehilangan. Inikah mati yang didambakan ? mati bukan keadaan hina, meski raga telah tiada tapi semangat dan karya tetap hidup. Dikenang banyak orang karena kerja keras dan prestasi yang pernah diraih. Kehendak untuk berbagi pada sesama dengan ikhlas. Inikah mati khusnul khotomah ? mati yang didambakan setiap orang?</p>
<p>Semua kita pasti mati, karena tak ada yang abadi di dunia ini. Semua yang bernyawa pasti akan kembali ke asalnya. Yang patut menjadi renungan kita bukanlah kapan kita mati ? tapi jika mati nanti, akankah kita dikenang karena amal jariah, kerja keras dan prestasi yang bermamfaat bagi orang lain selama di dunia ini.</p>
<p>Sekecil apapun itu niat yang baik pasti akan berbuah manis. Mereka yang telah mengukir sejarah dalam hidup ini perlu kita tiru, kepergian mereka telah meninggalkan sesuatu yang pantas untuk diapresiasi sebagai mahakarya anak manusia.</p>
<p>Sumber : www.selebriti.kapanlagi.com</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sirtuberbagi.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sirtuberbagi.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sirtuberbagi.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sirtuberbagi.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sirtuberbagi.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sirtuberbagi.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sirtuberbagi.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sirtuberbagi.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sirtuberbagi.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sirtuberbagi.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sirtuberbagi.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sirtuberbagi.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sirtuberbagi.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sirtuberbagi.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sirtuberbagi.wordpress.com&amp;blog=8880383&amp;post=17&amp;subd=sirtuberbagi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sirtuberbagi.wordpress.com/2009/08/05/mati-yang-aku-dambakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3157c155d98e7ce9f83af94ffa3ccfff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sirtuberbagi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sirtuberbagi.files.wordpress.com/2009/08/urip7.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">urip7</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
