Akhir-akhir ini kita digemparkan dengan kematian dua orang seniman musik. Yaitu sang raja pop asal Amerika Serikat Michael Jackson dan Penyanyi Regge Indonesia Mbah Surip yang meninggal ditengah puncak popularitasnya. Michael Jackson yang berhasil membawa albumnya, Thriller terjual hingga 104 juta copy, dan sejumlah penghargaan diterimanya. Kini Jacko ‘menjauh’ dari publikasi dan karirnya semakin terpuruk. Namun demikian ia tetap melegenda di dunia pop.
Dilahirkan di Mojokerto, 5 Mei 1949 dengan nama asli Urip Achmad Rijanto Soekotjo adalah duda dengan empat orang anak sekaligus kakek dari empat cucu.Pada hari Selasa, 4 Agustus 2009, Mbah Surip meninggal. Menurut kabar yang beredar, Mbah Surip yang kerap mengatakan ‘I Love You Full’ ini menghembuskan nafas terakhir sekitar pukul 10.30 wib, setelah sebelumnya sempat dilarikan ke RS Pusdikkes, Jakarta Timur.
Mbah Surip meninggal dengan status duda yang telah disandangnya selama 26 tahun dan meninggalkan empat anak dan empat cucu. Jenazahnya akhirnya dimakamkan di di kawasan Bengkel Teater W.S Rendra , Depok, Jawa Barat untuk beristirahat selama-lamanya.
Di tengah popularitas yang baru saja diraihnya, seniman nyentrik asal Mojokerto, Jawa Timur, tersebut menghadap Sang Khalik. Kepergian pelantun tembang Tak Gendong yang begitu mendadak itu menyisakan duka yang sangat mendalam bagi kerabat, teman dekat maupun para penggemarnya.
Kini, tiada lagi penampilan unik dengan rambut rasta ala penyanyi reggae dan tawanya yang khas dan lepas, yang menjadi ciri dari Mbah Surip
Kematian mereka begitu mengejutkan. Semua orang berduka dan merasa kehilangan sosok mereka. Semua orang merindukan kehadiran mereka. Bukan hanya sanak keluarga, tapi seluruh tanah air dan dunia merasa kehilangan. Inikah mati yang didambakan ? mati bukan keadaan hina, meski raga telah tiada tapi semangat dan karya tetap hidup. Dikenang banyak orang karena kerja keras dan prestasi yang pernah diraih. Kehendak untuk berbagi pada sesama dengan ikhlas. Inikah mati khusnul khotomah ? mati yang didambakan setiap orang?
Semua kita pasti mati, karena tak ada yang abadi di dunia ini. Semua yang bernyawa pasti akan kembali ke asalnya. Yang patut menjadi renungan kita bukanlah kapan kita mati ? tapi jika mati nanti, akankah kita dikenang karena amal jariah, kerja keras dan prestasi yang bermamfaat bagi orang lain selama di dunia ini.
Sekecil apapun itu niat yang baik pasti akan berbuah manis. Mereka yang telah mengukir sejarah dalam hidup ini perlu kita tiru, kepergian mereka telah meninggalkan sesuatu yang pantas untuk diapresiasi sebagai mahakarya anak manusia.
Sumber : www.selebriti.kapanlagi.com